Selamat datang di www.publichealthnote.blogspot.com

Publichealthnote menyediakan informasi seputar penyakit dan obat sebagai referensi bagi tenaga kesehatan dan sebagai wawasan tambahan bagi masyarakat umum. Tidak disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan tanpa petunjuk dokter.

Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga blog ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan dapat menjadi amal jariyah bagi penulis.

Monday, March 12, 2012

Tuberkulosis Paru (TBC)


Definisi
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.

Etiologi (Penyebab)
Mycobacterium tuberculosis

Manifestasi Klinis (Gejala)
-       Pada awalnya penderita hanya merasa tidak sehat atau batuk terus-menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih.
-       Jumlah dahak biasanya akan bertambah banyak sejalan dengan perkembangan penyakit. Pada akhirnya dahak akan berwarna kemerahan karena mengandung darah.
-       Masa inkubasi berkisar antara 4 – 12 minggu.
-       Salah satu gejala yang paling sering ditemukan adalah berkeringat di malam hari tanpa aktivitas.
-       Keluhan dapat berupa demam, malaise, penurunan berat badan, nyeri dada, batuk darah, sesak nafas.
-       Sesak nafas merupakan pertanda adanya udara (pneumotoraks) atau cairan (efusi pleura) di dalam rongga pleura. Sekitar sepertiga infeksi ditemukan dalam bentuk efusi pleura.
-       Pada infeksi tuberkulosis yang baru, bakteri pindah dari luka di paru-paru ke dalam kelenjar getah bening yang berasal dari paru-paru. Jika sistem pertahanan tubuh alami bisa mengendalikan infeksi, maka infeksi tidak akan berlanjut dan bakteri menjadi dorman.
-       Pada anak-anak, kelenjar getah bening menjadi besar dan menekan tabung bronkial dan menyebabkan batuk atau bahkan mungkin menyebabkan penciutan paru-paru. Kadang bakteri naik ke saluran getah bening dan membentuk sekelompok kelenjar getah bening di leher. Infeksi pada kelenjar getah bening ini bisa menembus kulit dan menghasilkan nanah.
Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang berobat ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) dengan gejala tersebut di atas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

Diagnosis
1.    Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu – pagi – sewaktu (SPS).
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa sewaktu – pagi – sewaktu:
-       S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.
-       P (pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
-       S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.  
2.    Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
3.    Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Pada sebagian besar TB paru, diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan dengan indikasi sebagai berikut:
-       Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasil BTA nya positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif.
-       Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
-       Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).
4.    Upaya pertama dalam diagnosis TB paru pada anak adalah melakukan uji tuberkulin. Hasil positif yaitu > 10 mm atau > 15 mm pada anak yang telah mendapatkan BCG, ditambah dengan gambaran radiologi dada yang menunjukkan infeksi spesifik, LED yang tinggi, limfadenitis leher dan limfositisis relatif sudah dapat digunakan untuk membuat diagnosis kerja TB paru.
 
Penatalaksanaan
1.    Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis)
 2.    Jenis dan Dosis OAT (Obat Anti Tuberkulosis)

Tabel 1 Jenis dan Dosis OAT  
Jenis OAT
Dosis
(mg/kgbb/hari)
Dosis yang Dianjurkan (mg/kgbb)
Harian
3 x Seminggu
Rifampicin (R)
8 – 12
10
10
Isoniazid (H)
4 – 6
5
10
Pyrazinamide (Z)
20 – 30
25
35
Ethambutol (E)
15 – 20
15
30
Streptomycin (S)
12 – 18
15
-

3.    Prinsip Pengobatan
-       OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
-       Unutk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
-       Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan lanjutan.
a.    Tahap Awal (Intensif)
·      Pada tahap awal (intensif) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
·      Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
·      Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
b.    Tahap Lanjutan
·      Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu lebih lama.
·      Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
4.    Panduan OAT-KDT dan Peruntukannya
a.    Kategori 1
Panduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
-       Pasien baru TB paru BTA positif
-       Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
-       Pasien TB ekstra paru

Tabel 2     Dosis paduan OAT KDT kategori 1: 2(RHZE)/4(RH)3
Berat Badan
Tahap Intensif
tiap hari selama 56 hari
RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan
3 x seminggu selama 16 minggu
RH (150/150)
30 – 37 kg
2 tablet 4KDT
2 tablet 2KDT
38 – 54 kg
3 tablet 4KDT
3 tablet 2KDT
55 – 70 kg
4 tablet 4KDT
4 tablet 2KDT
> 71 kg
5 tablet 4KDT
5 tablet 2KDT

b.    Kategori 2
Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
-       Pasien kambuh
-       Pasien gagal
-       Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

Tabel 3     Dosis paduan OAT KDT kategori 2 ; 2(RHZE)S/(RHZE)/5(HR)3E3
Berat Badan
Tahap Intensif tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S
Tahap Lanjutan 3 x seminggu
RH (150/150) + E (400)
Selama 58 hari
Selama 28 hari
Selama 2 minggu
30 – 37 kg
2 tab 4KDT +
500 mg Streptomisin inj
2 tab 4KDT
2 tab 2KDT +
2 tab Etambutol
38 – 54 kg
3 tab 4KDT +
750 mg Streptomisin inj
3 tab 4KDT
3 tab 2KDT +
3 tab Etambutol
55 – 70 kg
4 tab 4KDT +
1000 mg Streptomisin inj
4 tab 4KDT
4 tab 2KDT +
4 tab Etambutol
> 71 kg
5 tab 4KDT +
1000 mg Streptomisin inj
5 tab 4KDT
5 tab 2KDT +
5 tab Etambutol

4 comments:

  1. TB memang penyakit yang membosankan,pengobatanya harus rutin dan teratur.silahkan di Imbangi dengan minum susu kambing sebagai pendamping obat dari dokter,terbukti susu kambing bisa mengobati TBC mengingat kesehatan ginjal kita dalam waktu jangka panjang.Cara minum susu kambing tidak boleh pas setelah minum obat,tetapi di beri jeda waktu min 1 jam setelah minum obat dari dokter Silahkan cek setelah satu bulan bagaiman perkembangan nya nanti.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih atas masukannya Pak Andy. Pada pasien TBC, selain berobat dengan teratur, pasien juga perlu memelihara daya tahan tubuh untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit. Salah satu cara menjaga daya tahan tubuh adalah dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, termasuk rutin minum susu sapi / kambing.

    ReplyDelete
  3. Dok. istri saya umur 34 tahun. sudah 1 miggu ini sudah melkukan prosedur malah sudah di chek darah juga rongsent. juga hasil nya POSITIP. tp mellihat statmen yang ibu paparkan di atas istri saya tidak ada DAHAK.
    YG JADI PERTANYAAN SAYA .
    apakah kalau berhubungan intim tidak akan mengakibatkan menular sekian dan terima kasih.
    mohon petunjuk?
    juga langkah2 apa saja yang harus di tempu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penegakan diagnosis tuberkulosis, selain dengan pemeriksaan dahak, juga bisa dilakukan dengan pemeriksaan radiologi (ronsen positif).

      Penularan kuman TB terjadi melalui pernapasan, yakni ketika menghirup droplet atau bercak dahak yang keluar saat batuk atau bersin.

      Seseorang yang didiagnosis TB aktif dan harus menjalani pengobatan biasanya akan diisolasi selama kurang lebih 2 minggu. Kontak langsung termasuk berhubungan sex, harus dibatasi selama masa tersebut, sebab risiko penularan masih cukup tinggi. Penggunaan masker penutup hidung akan mengurangi risiko infeksi pada masa-masa awal pengobatan.

      TB adalah penyakit menular yang sebenarnya sangat sulit menular. Infeksi atau penularan hanya terjadi pada kondisi daya tahan tubuh yang lemah, sehingga makanan bergizi dan paparan sinar matahari akan sangat membantu mencegah penularan.



      Delete