Selamat datang di www.publichealthnote.blogspot.com

Publichealthnote menyediakan informasi seputar penyakit dan obat sebagai referensi bagi tenaga kesehatan dan sebagai wawasan tambahan bagi masyarakat umum. Tidak disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan tanpa petunjuk dokter.

Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga blog ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan dapat menjadi amal jariyah bagi penulis.

Monday, March 12, 2012

Demam Berdarah Dengue (DBD)


Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai dengan:
1.    Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2 – 7 hari;
2.    Manifestasi perdarahan (petekie, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis, ekimosis, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri) termasuk uji Tourniquet (Rumple Leede) positif;
3.    Trombositopeni (jumlah trombosit ≤ 100.000/µl);
4.    Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ≥ 20%);
5.    Disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali).

Etiologi (Penyebab)
Virus dengue yang sampai sekarang dikenal 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4), termasuk dalam group B Arthropod Borne Virus (Arbovirus). Keempat serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue-4.

Cara Penularan
Penularan DBD umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes albopictus yang biasanya hidup di kebun-kebun. Nyamuk penular DBD ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.

Manifestasi Klinis (Gejala)
a.    Masa inkubasi biasanya berkisar antara 4 – 7 hari
b.    Demam
Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2 – 7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 panas mendadak turun.
c.     Tanda-tanda perdarahan
Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji Tourniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi perdarahan sebagai berikut: Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan konjungtiva, Epistaksis, Pendarahan gusi, Hematemesis, Melena dan Hematuri. Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya regangkan kulit, jika hilang maka bukan petekie. Uji Tourniquet positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai sebagai presumptif test (dugaan keras) oleh karena uji Tourniquet positif pada hari-hari pertama demam terdapat pada sebagian besar penderita DBD. Namun uji Tourniquet positif dapat juga dijumpai pada penyakit virus lain (campak, demam chikungunya), infeksi bakteri (Typhus abdominalis) dan lain-lain. Uji Tourniquet dinyatakan positif, jika terdapat 10 atau lebih petekie pada seluas 1 inci persegi (2,5 x 2,5 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).
d.    Pembesaran hati (hepatomegali)
Sifat pembesaran hati:
-       Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit
-       Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
-       Nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus.
e.    Renjatan (syok)
Tanda-tanda renjatan:
-       Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki
-       Penderita menjadi gelisah
-       Sianosis di sekitar mulut
-       Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba
-       Tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang.
Sebab renjatan: Karena perdarahan, atau karena kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang terganggu.
f.     Trombositopeni
-       Jumlah trombosit ≤ 100.000/µl biasanya ditemukan diantara hari ke 3 – 7 sakit
-       Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau menurun.
-       Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila normal maka diulang tiap`hari sampai suhu turun.
g.    Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
Peningkatnya nilai hematokrit (Ht) menggambarakan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka terjadinya perembesan plasma, sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan hematokrit. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit ≥ 20% (misalnya 35% menjadi 42%: 35/100 x 42 = 7, 35+7=42), mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. Perlu mendapat perhatian, bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan. Penurunan nilai hematokrit ≥ 20% setelah pemberian cairan yang adekuat, nilai Ht diasumsikan sesuai nilai setelah pemberian cairan.
h.    Gejala klinik lain
-       Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot, anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan kejang
-       Pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis
-       Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan

Pemeriksaan Penunjang
1.    Laboratorium
Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi. Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue ataupun deteksi antigen RNA virus dengue dengan teknik RT-PCR. Pemerkisaan antibodi spesifik dengue dapat berupa antibodi total, IgG maupun IgM.
Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain:
-       Leukosit: dapat normal atau turun.
-       Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8
-       Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit > 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam.
-       Protein/albumin: dap;at terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma
-       SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase): dapat meningkat
-       Ureum, kreatinin: bila didapatkan gangguan fungsi ginjal
-       Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan.
-       Golongan darah dan uji cocok serasi
-       Pemeriksaan IgG dan IgM dengue:
·      IgM: terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3, menghilang setelah 60-90 hari.
·      IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke-2.
2.    Pemeriksaan radiologi
Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Asites pada efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.

Diagnosis
Berdasarkan kriteria WHO 1997, diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini terpenuhi:
1.    Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2.    Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie, ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
3.    Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
4.    Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma:
-       Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis kelamin.
-       Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
-       Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia, hiponatremia.  

Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:
-       Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet.
-       Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain.
-       Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin dan lembab, tampak gelisah.
-       Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Penatalaksanaan
Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris. Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada kondisi tersebut secara bertahap dikurangi. Selain pemantauan untuk menilai apakah pemberian cairan sudah cukup atau kurang, pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif perlu selalu diwaspadai.

Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada trombositopenia yang berat) dan pemberian makanan dengan kandungan gizi yang cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna. Sebagai terapi simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol, serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum).

Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO. Protokol ini terbagi dalam 5 kategori, sebagai berikut:
1.    Protokol 1: Penanganan tersangka DBD tanpa syok.
Dilakukan pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, dan trombosit. Jika terjadi peningkatan Hb, Ht dan terjadi penurunan trombosit, maka tersangka perlu dirawat  (Gambar 1).
2.    Protokol 2: Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat.
Cairan yang diberikan adalah cairan infus kristaloid (Gambar 2)
3.    Protokol 3: Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%.
Tetap diberikan asupan cairan kristaloid dengan tetap dipantau nilai Hematokritnya. Jika terjadi perburukan maka jumlah cairan infus ditambah (Gambar 3).
4.    Protokol 4: Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa.
Pemberian infus cairan tetap seperti keadaan tanpa syok. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernapasan, dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin (tiap 4-6 jam). Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan tanda-tanda koagulasi intravaskular diseminata. Transfusi darah diberikan jika terjadi perdarahan masif.
5.    Protokol 5: Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa (Gambar 4).

 Gambar 1. Protokol 1: Penanganan tersangka DBD tanpa syok


Gambar 2. Protokol 2: Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat


 Gambar 3. Protokol 3: Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%

 Gambar 4. Protokol 5: Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa

Prognosis
-       Derajat I baik
-       Bila ada syok atau perdarahan cukup berat
-       Pada anak lebih ringan

Referensi
1.    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas, Ditjen Binfar & Alkes, Jakarta, 2007.
2.    Departemen Kesehatan RI, Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Ditjen P2PL, Jakarta, 2001.
3.    Kie Chen, dkk, Diagnosis dan Terapi Cairan pada Demam Berdarah Dengue, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, 2009
4.    Mansjoer Arif, dkk, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1, Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2001.
5.    Mubin Halim Prof. dr., Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam (Diagnosis dan Terapi), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2008.  
6.    Zein Umar, Pedoman Penatalaksanaan “One Day Care” Penderita Demam Berdarah Dengue Dewasa, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Fakultas Kedokteran USU Medan, 2004










No comments:

Post a Comment